Rabu, 06 Oktober 2021

Kisah Islami Motivasi Gtt

kini akan menyajikan cerita islami motivasi yang bisa menjadi dorongan dan introspeksi bag Cerita Islami Motivasi GTT
DapurImajinasi sekarang akan menyuguhkan cerita islami motivasi yang mampu menjadi dorongan dan introspeksi bagi diri kita. Cerita islami  motivasi yang berjudul GTT ini bercerita perihal sosok guru yang bersahaja dengan hidupnya. Cerita ini pernah dimuat di Rubrik Hikayat Surat Kabar Solopos. Selanjutnya, silakan membaca dan hayati maknanya.

 

GTT

oleh: Andi Dwi Handoko

“Astagfirullah”
Aku terlambat tiba ke sekolah. Padahal hari ini jadwalku mengajar jam pertama.

Kemarin, saya telah memberi pengumuman pada siswa-siswaku untuk belajar bahan bab IV alasannya adalah hari ini kugunakan untuk ulangan harian. Dengan buru-buru aku keluar dari bus dan pribadi berlari menuju gerbang sekolah yang sudah tutup.

Memang, umumnya jika telah pukul 07.05 WIB, gerbang akan ditutup dan siswa yang terlambat tidak boleh masuk. Toleransi telat hanya lima menit dari agenda masuk yang ditentukan. Sementara ini telah hampir 07.30 WIB. Sesampai di gerbang, aku mengundang penjaga yang bangkit tak jauh dari gerbang. Ia tersenyum simpul.

“Tumben telat Pak?” tanya penjaga sekolah sembari membukakan pintu gerbang.

“Bus di jalan mogok, jadi terpaksa tadi mesti oper ke bus lain,” jawabku.

Aku pun segera berlari menuju ruang guru untuk mengisi daftar presensi. Ruang guru terlihat lengang. Hanya ada Bu Ratih guru bahasa Inggris yang sedang menanti jatah mengajar nanti jam kedua.

Segera kupersiapkan sesuatunya untuk ulangan harian kali ini. Kertas soal yang sudah ku fotokopi secepatnya kuraih dan kubawa dengan bergegas. Sesampai di kelas ternyata sudah ada guru piket yang mengisi kelas.

“Assalamualaikum...” saya mengucapkan salam sambil masuk ke kelas.

“Waalaikumsalam. Ouh... Maaf Pak Himawan, saya kira njenengan tadi tidak datang?”

“Tidak apa-apa Pak, maaf juga tadi aku telat jadi kedahuluan njenengan sebagai guru piket.”

“Baiklah mangga Pak Himawan, aku mau periksa kelas-kelas lainnya dahulu. Assalamualaikum...”

“Waalaikumsalam...”

Aku segera mengambil alih kelas dan pribadi memulai pembelajaran alasannya tadi siswa-siswa telah dipimpin berdoa dikala dikerjakan oleh guru piket. Ada yang tampak kecewa sebab kelas tidak jadi kosong. Biasanya mereka adalah siswa yang tidak berguru atau kurang siap menghadapi ujian. Memang anak-anak zaman kini, maunya yang santai-santai. Tapi itulah mereka, yang masih berguru, yang hijau akan pengalaman hidup, namun semangat mereka adalah semangat yang terus membara.

Alhamdulillah, alhasil kelas hari ini simpulan dengan lancar, walau tadi terhambat dengan acara telat. Aku pun kembali ke kantor guru, menanti karena masih ada jam mengajar di kelas lain sesudah istirahat.

Tak terasa jatah mengajarku sudah habis sebelum tengah hari. Aku secepatnya bersiap untuk pulang sebab memang di sekolah ini aku tidak full time seperti guru yang lain. Di sekolah ini, aku hanyalah guru tidak tetap (GTT) yang hanya digaji berdasarkan jumlah jam mengajar. Gaji bulananku memang tak seberapa, bahkan kalau ditautkan dengan UMR, total gajiku dari sekolah swasta ini tak ada setengahnya. Dengan gajiku yang tak seberapa ini, saya dituntut hidup berdikari di kota ini selepas saya diwisuda sarjana hampir setahun yang kemudian. Di segi lain, selaku anak, aku masih menyempatkan untuk mengantarsejumlah uang untuk orangtua yang tinggal di desa.

Tentu saja mengandalkan uang gaji GTT di sekolah swasta saya tidak mungkin bisa mengantarkan duit ke desa, bahkan untuk mencukupi biaya hidup di kota barangkali masih kurang. Oleh sebab itu, aku nyambi mengajar di bimbingan berguru yang itu pun juga sama digaji per jam mengajar. Tapi Alhamdulillah juga, aku sering mengirim tulisan ke media massa dan sesekali diangkut.

Terkadang selaku GTT aku pun merasa gaji yang kuterima tidak seimbang dengan kerjaku. Tapi ketika aku berpikiran mirip itu, saya secepatnya beristigfar alasannya adalah selaku guru, saya mesti ikhlas dan qanaah. Ini semua kulakukan karena saya ingin mengabdikan ilmu yang aku miliki untuk anak-anak didikku yang semangatnya menyala-nyala itu. Mereka adalah generasi penerus bangsa yang mesti dibimbing dan diarahkan dengan ilmu biar tidak kesasar di lalu hari. Mereka itulah yang senantiasa memberi warna bagiku sehingga meskipun aku kecapekan mengajar dengan komisi yang tidak sebanding, aku tetap lapang dada.

Hari selanjutnya, aku hanya ada jam mengajar satu pertemuan yang lamanya dua kali 45 menit. Itu pun jam terakhir. Tapi aku lebih pagi datang ke sekolah alasannya adalah ada problem administrasi yang harus diselesaikan. Setelah selesai menyelesaikan permasalahan manajemen, saya ke ruang guru untuk mempersiapkan materi pembelajaran.

Saat itu istirahat sehingga banyak guru berada di ruangannya. Para guru sibuk membahas sesuatu. Ternyata ketika itu ada siaran breaking news di televisi yang memberitakan tahun depan gaji PNS akan dinaikkan oleh pemerintah. Beberapa guru berandai-andai alangkah enaknya bila jadi PNS, gajinya besar. Ada yang mengkritik kebijakan pemerintah itu dan ada juga yang membanding-bandingkan antara gajinya dengan honor PNS.

Aku cuma mengernyitkan senyum. Bagiku, rezeki itu telah dikelola oleh Allah. Menjadi GTT dengan gaji yang sekurang-kurangnyapun dikala ini saya merasa bahagia alasannya adalah aku percaya suatu dikala nanti ada jalan yang terbaik untukku selama aku tetap berupaya, tulus, qanaah dan tabah.

Dimuat Solopos, Edisi : Jumat, 08 Oktober 2010 , Hal.X

Baca juga cerita islami yang lain:

- Titipan Illahi
- Kado Pernikahan
- Kerja Ikhlas
- Mata Bening
- Jodoh Terbaik

gambar dari: http://irfanrachmat.files.wordpress.com/2010/08/guru-karikatur2.jpg?w=420&h=276