Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2016

Spesialis anak dr Barbara Frankowski dari University

Pada tahun 1980-an hingga tahun 1998 pengobatan dengan piretrum dan permethrin ditemukan oleh studi masih 100 persen efektif untuk melawan kutu kepala. Namun pada tahun 2009 efektivitas keduanya turun drastis menjadi tinggal 26 persen. Terapi rumahan seperti dengan menggunakan mayones dan minyak esensial tidak didemonstrasikan aman apalagi efektif untuk melawan kutu kepala. Spesialis anak dr Barbara Frankowski dari University of Vermont Children's Hospital berkomentar saat ini cara yang paling baik untuk mengobati kutu kepala mungkin adalah dengan obat resep. Hanya saja obat resep punya kelemahan yaitu harganya yang mahal. "Semua obat resep bisa sangat mahal bahkan ada yang seharga 100 dolar (sekitar Rp 1,3 juta -red) hanya untuk sekali pakai," ujar dr Barbara.

Peneliti Mulai Identifikasi Munculnya Kutu Kepala yang Kebal Obat

Jakarta,  Menurut studi yang dipublikasi di jurnal Pediatric Dermatology, parasit kutu kepala tampaknya kini mulai menunjukkan kekebalan terhadap obat-obatan yang dijual secara umum. Hal ini diketahui setelah peneliti melakukan tinjauan literatur dari seluruh studi yang pernah dilakukan di Amerika Serikat hingga bulan Oktober 2015. Salah satu peneliti dr William Ryan mengatakan khususnya terapi dengan piretrum dan permethrin yang sering dibeli oleh orang tua tak lagi ampuh dalam mengusir kutu. "Selama beberapa dekade keduanya tersedia secara luas dan mudah diperoleh sehingga sering digunakan, oleh karena itu tidak dapat dihindari pada akhirnya akan muncul resistansi. Makin buruknya adalah ketika orang sadar terapi tidak efektif mereka malah terus menggunakannya membuat kutu kepala justru semakin resistan," kata dr Ryan seperti dikutip dari  Reuters  pada Kamis (15/9/2016).

limfoma juga lebih mungkin dialami oleh seseorang

Pada kondisi normal, seseorang akan membentuk zat penangkal yang disebut antibodi terhadap segala benda asing yang masuk, misalnya kuman. Nah, pada orang dengan lupus (odapus) terbentuk kelebihan antibodi yang menyerang tubuh. Selain itu, limfoma juga lebih mungkin dialami oleh seseorang yang memiliki berat badan berlebih alias obesitas. Terlebih jika pola makan orang tersebut tak sehat, misalnya terlalu sering mengonsumsi gorengan atau daging merah. "Bisa juga lebih dialami oleh orang yang memiliki riwayat kanker di keluarganya. Meskipun demikian, bukan berarti orang dengan limfoma pasti akan menurunkan kondisi ini kepada keturunannya, ini belum ada bukti ilmiah yang mendukung," imbuh dr Andhika dalam temu media Peringatan Hari Limfoma Sedunia 2016 di Penang Bistro Kebon Sirih, Jakarta, Kamis (15/9/2016). Salah satu faktor risiko lain dari limfoma adalah seringnya radiasi. Namun perlu diingat, bukan berarti radiasi justru akan membuat seseorang terkena limfoma. Menurut dokte...

Punya Faktor Risiko Seperti Ini, Peluang Kena Limfoma Makin Tinggi

Jakarta,  Ada beberapa kondisi yang disebut-sebut bisa meningkatkan risiko seseorang untuk terkena limfoma atau kanker kelenjar getah bening. Apa saja? Disebutkan oleh Dr dr Andhika Rachman, SpPD-KHOM, dari RS Cipto Mangunkusumo, bahwa umumnya limfoma lebih berpeluang muncul pada pasien yang memiliki sistem kekebalan tubuh atau imun yang rendah. Penurunan imun ini bisa juga muncul akibat penyakit lain, misalnya seperti lupus. Lupus Eritematosus Sistemik (SLE) atau lupus merupakan penyakit autoimun yang bisa mengenai banyak organ tubuh. Penyakit ini ditandai adanya produksi antibodi terhadap tubuh sendiri secara berlebih, sehingga menyebabkan peradangan dan kerusakan jaringan tubuh.

Perjuangan Edi, Buruh Pabrik di Cakung yang Merawat Anak dengan Gangguan Hati

Demi merawat anak keduanya yang mengidap Atresia Billier, seorang buruh pabrik di Cakung rela mengorbankan waktu istirahatnya untuk bekerja di shift malam.

Potret Pemasangan Perangkap Nyamuk di Bandara Soekarno Hatta

Gambar
Jakarta,  Untuk mengantisipasi masuknya virus Zika, sekitar 600-1.000 alat perangkap nyamuk (lavitrap) dipasang oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara Soekarno Hatta. Lavitrap dipasang di Bandara Soekarno Hatta sebagai langkah pendukung mencegahnya penyebaran virus Zika. KKP sendiri sebelumnya telah memasang thermal scanner dan membagikan Health Alert Card sebagai upaya deteksi dini masuknya penyakit di antara penumpang internasional. Lavitrap bekerja dengan cara memerangkap telur nyamuk. Karena tak bisa keluar pada akhirnya nyamuk akan mati sendiri dan diharapkan lewat cara ini populasi nyamuk secara keseluruhan dapat dikendalikan. Lavitrap adalah teknologi tepat guna yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Untuk membuat versi sederhananya cukup dengan botol plastik dibelah dua kemudian bagian atasnya dibalik untuk menjadi corong. Isi wadah dengan air hingga nyaris penuh dan warnai bagian atas dengan warna gelap untuk memikat nyamuk. Baca juga: ...